TERUNTUK KAMU

11:48:00 PM



Dear Kamu, iya kamu. Siapa lagi? Hahaha
Aku pikir hujan itu cuma buat merindukan seseorang.
Tapi, sejak hari itu kamu menambah arti hujan buat mengingat sesuatu hal.
Iya, mengingat janji yang telah kita buat.
Aku kadang suka gak paham sih, hujan itu seakan tau dengan suasana hatiku.
Sedih? Bukan. Aku suka hujan, karena hujan itu lambang kebahagian.
Layaknya bumi yang dibasahi air hujan, aku tanaman usang yang berbahagia.
Mungkin, kamu udah kek hujan kali ya. Aku seperti tanaman yang sedang berbahagia akan kehadiran kamu di bumi ini. 

Ah, kok aku jadi bahas hujan ya?
Seperti kata lagu Utopia sih "Aku selalu bahagia saat hujan turun".
Lagu itu emang benar-benar nyata membuatku bahagia.
Saat hujan untuk merindukan seseorang aja aku sudah bisa bahagia.
Apalagi dengan hal yang kamu utarakan saat hari itu, sangat bahagia.

Oh iya, balik lagi kita ngomongin janji yang  telah kita sepakati ya.
Sebelumnya, terima kasih teruntuk kamu yang sudah berani menjadikan aku teman berjuang hidupmu.
Aku tidak pernah menyangka hari itu aku bisa menemukan seseorang seperti kamu.
Kamu yang tidak mengajakku "Yaudah jalani saja" "Yaudah kita mulai hari ini jadian seperti orang-orang pada umumnya".
Pacaran? Ya menurutku aku pun tidak lagi membutuhkan hal seperti itu. 
Katamu kita sudah dewasakan? Aku sependapat denganmu.
Main-main bukan masanya lagi.
Pacaran? Sebuah kata yang akan kedengarannya sensitif ditelingaku.
Aku merasa beruntung kamu sependapat denganku.
Lebih tepatnya kita "berjuang bersama-samakan?"
Berjuang? Mungkin perjuangan kita gak akan seperti Pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaannya "harus dengan tumpah darah". Kedengarannya terlihat mengerikan, bukan?
Tentu saja tidak. Mungkin aku akan lebih menyederhanakannya menjadi "Kita komitmen untuk saling menjaga hati". 

Dear kamu, tenang saja. Aku akan jadi wanita tangguh yang tak akan mengganggu fokusmu. Bukankah kita sama-sama berjuang? 
Kamu selesaikan pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggumu. 
Aku tidak perlu mengkhawatirkanmu, karena aku yakin kamu baik-baik saja. 
Kamu sedang berjuang untuk menyelesaikan pekerjaanmu, aku yakin kamu pasti "semangat" menyelesaikannya. 
Oh iya, kalau kehilangan semangatnya ingat selalu ya "Aku selalu memberikan semangat buat kamu". Lebih dari aku pun, jangan lupa orang tuamu juga salah satu penyemangat hidup kamu untuk menjadi alasan  tetap semangat menyelesaikan pekerjaanmu. "Semangat menjalani hari-harimu dengan setumpuk kerjaan, jangan jadikan beban, jadikan tumpukan kerjaan itu tumpukan yang akan menjadi kebahagiaan di masa depan nanti untuk kamu, atau kita. Insya Allah"

Dear kamu, aku tidak menuntut untuk ketemu kamu setiap hari. 
Aku tidak akan mengganggu fokusmu hanya dengan mengatakan "Aku merindukanmu". 
Aku tidak akan menuntut kita selalu jalan dan makan bersama. 
Nanti akan ada saatnya, untuk saat ini "Mengetahui kamu sedang baik-baik saja" itu sudah sangat cukup buatku. 
Kan kamu sedang berjuang di medan perang? 
Kalau aku menuntut kamu untuk selalu ada, kamu gagal dong jadi pahlawan. Lucu gak? Ketawa jangan. 
Tenang saja, aku sudah terbiasa mengemas rindu. 
Biarkan hujan diluar sana yang menyampaikan rindunya, agar kau tak terbebani dengan kata rindu ini. 
Bukan terbebani sih ya, lebih tepatnya biar kita saling rindu cukup menyebut nama dalam doa. Biarkan Tuhan yang nanti mengemas rindu kita menjadi sebuah harapan yang kita inginkan nantinya. 

Dear kamu...
Oh iya soal menjaga hati ini, kamu percayakan saja. Aku bisa pastikan tidak akan ada orang yang bisa menggoyahkan hatiku, semoga kamu pun begitu ya. Semoga Tuhan tidak membolak-balikan hati kita. Semoga apa yang kita semogakan akan menjadi kenyataan, semoga Tuhan mendengar doa kita. Semoga Takdir mempersatukan kita nanti, Aamiin Yarabbal Alamiin....



You Might Also Like

0 komentar

Pena Blogger Banua

PENABLOGGERBANUA

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan

FEMALE BLOGGER BANJARMASIN

FEMALE BLOGGER BANJARMASIN