Incident On Friday

4:30:00 AM


Tadi pagi saat aku terbangun dari tidur, tidak sengaja melihat ada bercak merah di tanganku. “Darimana darah itu berasal? sementara tak satupun di tubuhku ada bekas luka”  pikirku. Setelah itu aku beranjak dari tempat tidurku, dan berdiri di depan cermin. Ternyata darah itu berasal dari telinga, sementara  tadi malam pun telinga ku tidak terasa sakit ataupun apa-apa. Pokoknya seakan tidak terjadi apa-apa.
Pikiran buruk mulai bermunculan di otakku, penyakit apa ini? Berbahaya tidak? Atau mungkin... ah mungkin ini hanya penyakit biasa.Tetap saja aku tidak bisa menghalau semua pikiran buruk yang mulai bermunculan. Setelah itu aku bertanya dengan orang rumah, tanteku. “Ini kenapa ya telingaku berdarah?” tanyaku. “Udah itu tidak apa-apa hanya penyakit biasa saja. “Tapi aku takut kalo apa-apa” rengekku. Dengan perasaan yang penuh kekhawatiran, kegelisahan, ah pokoknya semuanya campur aduk. Saat di sekolahpun aku tak berhenti berpikir keras, aku takut, sangat takut jika terjadi apa-apa. Aku takut jika penyakit ini terlalu berbahaya, untukku dimasa depan. Ah, pikiran buruk apa ini!
Pas di jalan pun waktu berboncengan sama teman pergi ke sekolah, eh ternyata gak sengaja nabrak kucing (read : bukan aku yang nyetir). Waktu itu aku lagi ngelamun soal insiden darah waktu di rumah, eh tiba-tiba merasa sepeda motor yang aku naiki terasa oleng. “Kenapa ki?” tanyaku. Waktu merasa oleng tadi aku sekilas melihat seperti ada yang berlari, mungkin itu kucing pikirku. Dan aku baru sadar ternyata tadi kami menabrak kucing. Kami pun berhenti tidak jauh dari TKP, temanku mulai panik. “Kucingnya mati atau apa ya?” tanyanya mulai panik. Aku yang dibelakang pun juga panik, kaki ku gemetaran. Setelah itu ada orang yang melihat kejadian itu, kata ibu-ibu itu “ Udah trus aja tidak apa-apa” teriaknya.  Tanpa pikir panjang kami meneruskan perjalanan, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.  Kamipun berdoa semoga aja kucingnya tidak apa-apa. Amin Yarabbal Alamin, Maafkan kami juga Ya Allah ini atas tidak kesengajaan :’)
Pas disekolah aku tidak terlalu memikirkan insiden berdarah itu lagi saat ketawa-ketawa sama teman, tapi saat sendirian ah itu yang bakal jadi kepikiran. Sekitar jam 12 siang, aku pulang ke rumah. Kuletakkan tas ditempat biasa, dan duduk di depan meja belajar. Lagi-lagi aku kepikiran dengan insiden telinga itu (lagi), seketika menjadi cengeng. Hiks...Hiks...Hiks :’) Air mata ini jatuh bukan karena apa-apa, hanya saja aku sedih saat seperti ini berasa banget jauh sama orang tua. Berasa banget jaraknya, ketika hanya bisa bilang lewat sms seperti ini  “Ma, pa telinga aku berdarah” . Ketika mereka hanya bisa memberi perhatian cuma lewat telpon, Cuma bisa lewat  alat elektronik. Ngebayangin aja seandainya mereka sekarang disini, mungkin aku takkan menangis seperti ini. Meskipun rasanya udah terbiasa tanpa mereka, tapi saat-saat sakit aku sangat membutuhkan mereka. Sangat membutuhkan mereka :’) Aku iri saat-saat teman yang lain dalam keadaan sakit, di samping mereka ada orang tua yang menguatkan mereka. Ah, ini memang lebay tapi inilah faktanya. Aku sadar perhatian orang tua tidak akan sama dengan orang lain, sangat tidak sama. Jauh dari mereka bisa membuatku mandiri, tapi nyatanya saat sakit seperti ini aku menjadi cengeng. Miss u a lot my parents :*
Malam ini rencananya mau pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaan telinga yang malang ini. Eh ternyata lagi-lagi manusia hanya bisa berencana tuhan yang menentukan. Hampir ¼ jalan dari rumah malah kembali, kata paman aku besok aja deh langsung kerumah sakit sekalian di rontgen. Ya aku iyain aja deh, Berharap hasil diagnosa dokter besok tidak mencengangkan dan tidak terjadi apa-apa. Amin :)

You Might Also Like

2 comments

  1. banyak banget yah insidenya, sabar aja :)

    ReplyDelete
  2. Iya sabar kok :)

    Terima kasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete